Revitalisasi Nilai Pancasila

Oleh Wasisto Raharjo Jati

Dewasa kini, pencideraan dan penistaan akan semangat multikulturalisme sendiri marak terjadi di berbagai daerah. Hal itu mulai dari penistaan akan kelompok Ahmadiyah di Desa Manis Lor Kuningan, protes beberapa kelompok tertentu terhadap pembangunan Gereja Huta Huria di Bekasi, aksi premanisme sipil yang dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan yang memaksakan kebenaran versi mereka kepada orang lain, pembubaran Forum Kaukus Pancasila yang dituding sebagai fasilitator mantan kader organisasi terlarang dan lain sebagainya. Berbagai hal itulah yang kemudian membangkitkan egoisme pribadi maupun kelompok lain yang mencoba membawa isme – isme baru bersifat chauvinistik yang belum terfilterisasi terlebih dahulu sehingga berusaha saling berkontestasi untuk membuktikan bahwa isme nya yang paling benar dan kontekstual untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai fenomena yang telah dikemukakan di atas tentunya bukanlah cerminan bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi akan pengakuan mengenai keanekaragaman yang ada dan tumbuh di antara para anak bangsa. Lantas dimana peran Pancasila sebagai ideology hidup yang semestinya dihayati dan diamalkan untuk terus menjaga tujuan mulia pembangunan bangsa Indonesia yang berbasis semangat multikulturalisme tersebut?

Pancasila yang bertujuan sebagai dasar fundamental penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara justru telah mengalami proses distorsi dan manipulasi politik oleh rezim yang berkuasa di masa lalu dan kemudian berimplikasi “terlupakan” di era sekarang. Adalah progam P4 sendiri dijadikan ajang legitimasi politik dan pemerintahan untuk terus berkuasa dan menekan dan mengintimidasi secara halus kepada rakyatnya. Sebagai contoh, Orde Baru berusaha mengindoktrinasi Pancasila melalui P4 bahwa kebudayaan Indonesia hanyalah satu dengan menjadikan Jakarta sebagai sentrum kebudayaan dan pembangunan Indonesia yang hakiki dan bukanlah yang berdasarkan pada keanekaragaman suku bangsa yang ada sehingga memicu disparitas multidimensi antara anak bangsa Indonesia. Hal itu bisa dilihat dengan adanya proses “penerjemahan” budaya metropolis Jakarta sebagai kebudayaan Indonesia dan berbagai budaya daerah bukanlah Indonesia. Bahasa Indonesia dialek Jakarta maupun Jawa merupakan produk budaya bahasa Indonesia, dan bangsa Indonesia yang benar adalah Jakarta dan Jawa. Sehingga kini bisa dilihat bahwa kebudayaan daerah yang beragam kini mulai tergerus bahkan menghilang yang kemudian memicu bermunculan aksi kecemburuan sosial dan budaya di daerah. Oleh karena itu setelah Orde Baru runtuh, Pancasila seakan terlupakan dengan etnosentrisme dan perasaan fanatisme yang cenderung ekstrim telah menjadi identitas baru dalam menunjukkan “aku” dan “dia” bukan “kita” dan “kami bersama” yang berujung pada aksi “pembenaran” tindakan pribadi. Oleh karena itulah solusi yang saya tawarkan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju dengan berdasar pada nilai Pancasila yang inklusif, kita harus menggali lebih dalam arti Nasionalisme Indonesia. Adapun langkah pertama menuju pembangunan semesta Indonesia tersebut adalah dimulai dengan mengeksplorasi dalam nilai setiap sila dalam Pancasila yang dimulai dari sila satu sampai lima.

Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila ini mengajarkan adanya pengakuan bersama bahwa Tuhan hanyalah tunggal dimana semua orang sebagai umat-Nya adalah sama dan tidak membeda – bedakan antara yang benar dan salah karena kebenaran yang hakiki adalah milik Tuhan dan bukanlah klaim sepihak beberapa oknum maupun organisasi tertentu karena manusia adalah tempatnya salah.

Sila Kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, sila ini mengajarkan bahwa manusia haruslah menujunjung tinggi adanya HAM dan persamaan hak dan kewajiban antar sesama dalam kehidupan sehari – hari. Dimana kekerasan maupun aksi premanisme sipil secara jelas tidak mengakui HAM antar sesama dan bukanlah cerminan manusia Indonesia yang pancasilis.

Sila Ketiga Persatuan Indonesia, tentunya sebagai bangsa yang heterogen dan tingkat multikulturalisme yang tinggi. Pengakuan akan tingginya toleransi dan sikap tenggang rasa dan tepo seliro antara sesama wajib dikedepankan dimana akan munculnya lahirnya rasa kebersamaan dan kebangsaan yang satu sebagai bangsa Indonesia yang multikultur. Maka penciptaan sentrum baru kebudayaan di setiap daerah selain Jakarta dan Jawa akan mengikis primordialisme daerah.

Sila Keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat & Kebijaksanaan, dalam Permusyawaratan Perwakilan, mengajarkan demokrasi deliberatif di kalangan masyarakat dimana bermusyawarah untuk memecahkan suatu persoalan tertentu merupakan hal yang mesti dilakukan ketimbang melakukan aksi sepihak yang cenderung anarkis dan destruktif.

Sila Kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sila pamungkas ini yang merupakan akumulasi nilai dan norma luhur dari sila sebelumnya bahwa dengan menciptakan pembangunan semesta Indonesia yang demokratis, inklusif, integratif, akan menjadikan Indonesia yang adil makmur dan sejahtera dimana tidak akan lagi muncul rasa kecemburuan, disparitas, maupun kesenjangan sosial di antara komponen anak bangsa.

Maka jikalau semua anak bangsa mau mendalami kembali nilai – nilai hidup dalam ideologi pancasila dan kemudian menerjemahkannya ke dalam level praksis,Insya Allah, tidak akan ada lagi segala bentuk egoisme pribadi yang berujung pada pola kolektivitas “kebenaran” yang mengancam pada disintegrasi bangsa akan tereduksi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s